LENSA KLATEN.COM – Puluhan pedagang kelontong dan busana lantai 3 Pasar Gede tiga lantai, yang terletak di jantung pusat kota, Klaten Jawa Tengah terancam bangkrut dan gulung tikar. Puluhan pedagang pemilik kios terpaksa menutup kiosnya, karena tidak ada pembeli yang berminat naik ke lantai atas.
Sepinya pengunjung atau pembeli sudah dirasakan sejak pertama kali pasar selesai dibangun sekitar 1 tahun lalu. Ironisnya mereka tetap harus membayar uang sewa kios yang mencapai Rp 43.000 hingga 48.000/bulan.
Beberapa pedagang yang berhasil ditemui mengaku terpaksa menutup kiosnya, karena nyaris tidak ada pengunjung yang mau datang naik hingga lantai 3. Hal semacam itu dulu juga pernah terjadi sebelum pasatr tiga lantai ini direvitalisasi.
” Saat sebelum dibangun pasar lantai 3 sudah sepi mas. Sekarang setelah dibangun suasananya tidak berubah, bahkan cenderung lebih sepi dibanding sebelum dibangun dulu. Maka dari pada merugi terus masih ditambaha harus bayar ristribusi tiap bulan Rp 43.000 mending kios kita tutup”, ujarnya.
Menurut sumber, sebenarnya pedagang sempat punya harapan besar, saat pasar dibangun. Dengan bayangan pihak pengelola atau pemerintah mengubah pola dan tata ruang serta menata pedagang sesuai kondisi pasar. Namun ternyata sama saja. Suasana di lantai 3 tetap sepi.
Sementara itu Kepala Pasar tiga lantai Klaten (pasar Gede) mengakui jika hingga saat ini banyak kios di lantai 3 yang tutup dan tidak ditempati.
Menurut Purwadi hal ini disebabkan, karena pengunjung jarang yang mau naik hingga lantai 3, walau sudah disediakan lif. Mereka lebih memilih berbelanja di lantai 2 dengan koleksi dagangan yang sama.
Diakui saat ini ada sekitar 80 lebih kios di lantai 3 yang ditutup pemiliknya karena sepi pembeli atau pengunjung. Sejak dibuka pertama kali sekitar satu tahun lalu, banyak pedagang yang malas membuka kiosnya.
” Kondisi ini sudah saya laporkan pada pimpinan. Namun sejauh ini belum ada solusi atau cara penanganan yang efektif dan jitu, bagaimana pengunjung mau dan tertarik belanja di lantai 3. Tentunya hal ini perlu inovasi atau gebrakan nyata agar pasar bisa hidup dan pedagang tidak merugi “, ujarnya.















