Enam Bulan Jadi Bupati, Hamenang Terus Perbaiki Jalan, Tinggal 30 Persen Yang Masih Rusak

LENSA KLATEN.COM – Jalan rusak di Klaten Jawa Tengah, merupakan masalah klasik yang ada dan muncul tiap tahun, siapapun pemimpinnya. Bagi masyarakat awam, Bupati dan kualitas jalan akan menjadi “sasaran tembak” ketika melihat kondisi jalan di Klaten yang sering rusak dan berlobang.

Namun benarkah rusaknya jalan di Klaten karena Bupati yang tidak tanggap dan responsif atas aduan warga, atau kualitas pengerjaan jalan yang “asal asalan”? Lantas mengapa jalan di Klaten cepat rusak dan apa penyebabnya?

Berikut laporan Hilal Alfarouq wartawan LENSA KLATEN.COM, usai berbincang bincang dengan Kepala Dinas PUPR Klaten Suryanto ST diruang kerjanya Rabu (13/08/2025).

Klaten,  kota yang berpenduduk sekitar 1.3 juta jiwa, ternyata memiliki jalan sepanjang 715.89 Km yang tersebar di 26 kecamatan, dengan status jalan Kabupaten. Panjang jalan tersebut masih ditambah jalan Propinsi sepanjang 14 KM dan jalan Nasional 19 KM yang membentang dari Tegalgondo hingga Prambanan. Sehingga jika di total ada sekitar 749,14 kilometer. Jumlah tersebut tentunya akan semakin panjang, jika ditambah jalan desa yang panjangnya mencapai ratusan kilometer.

“Saat ini kita punya jalan dengan panjang sekitar 715.89 KM, dengan klasifikasi jalan kelas III.  Dari angka tersebut selama 6 bulan masa kepemimpinan Bupati Klaten yang baru mas Hamenang, jumlah kerusakan yang ada tinggal 30 persen, atau sekitar 215 KM. Jumlah tersebut pun di akhir tahun tahun 2025 nanti akan semakin berkurang, karena saat ini proses perbaikan dan pemeliharaan jalan masih terus berlangsung. Dan sisa kerusakan akan kita genjot di tahun 2026,” kata Suryanto didampingi Agus Setyono Ketua Pokya Pemanfaatan dan Pemeliharaan Jalan Dinas PUPR Klaten.

Bupati Hamenang saat sidak perbaikan jalan Gempol – Pasung

Lantas mengapa jalan di Klaten sering rusak?

Menurut Suryanto, kerusakan jalan di Klaten faktor utama disebabkan adanya overload muatan kendaraan yang melintas. Faktor kedua karena ada beberapa wilayah yang memiliki sifat tanah lembek, atau bergerak. Misalnya di wilayah Karangdowo, Cawas dan Bayat.

Kelas dan kondisi jalan di Klaten sendiri lanjut  Suryanto, semuanya masuk klasifikasi jalan kelas III, dengan beban berat maksimal 8 ton. Sementara yang terjadi saat ini, armada yang melintas, terutama truk angkutan bermuatan matrial di Klaten, rata rata membawa beban diatas 11 ton. Ditambah setiap harinya satu ruas jalan bisa dilewati lebih dari 100 kali.

“Sebaik apapun jalan itu digarap, kalau klasifikasinya masih jalan kelas III, dan setiap hari diliwati kendaraan dengan tonase yang melebihi kapasitas (overload) pasti tidak bisa bertahan lama alias jebol. Itu belum ditambah jika struktur tanahnya masuk katagori tanah lembek atau tanah lempung. Ini yang perlu dipahami masyarakat,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut lanjut Suryanto, sudah beberapa tahun ini Pemerintah Kabupaten Klaten membangun jalan dengan sistim cor beton. Walau beayanya lebih mahal yakni bisa mencapai angka sekitar Rp 4 milliar untuk panjang 1 kilometer, dengan ketebalan 25 centimeter dan lebar 5,5 meter. Namun cara ini dipandang merupakan solusi efektif karena tidak mudah rusak dan mampu bertahan minimal 15 tahun sejak digunakan.

Melihat langsung proses pengecoran jalan di wilayah kecamatan Tulung

Pembangunan jalan cor beton diutamakan di daerah daerah yang sering dilewati armada berat seperti wilayah, Kemalang, Maninsrenggo, Kemalang, karangnongko dan Jogonalan. Juga di daerah yang tanahnya labil (gerak) seperti di kecamatan Bayat, Cawas, Karandowo, dan Juwiring.

Lantas sudah sejauh mana pembangunan serta perbaikan jalan di Klaten yang dilakukan Hamenang, sebagai Bupati Klaten yang baru menjabat Bupati Klaten selama 6 bulan ini.

Di 6 bulan masa kepemimpinan Bupati yang baru, Pemerintah Kabupaten Klaten melalui Dinas PUPR mengggenjot pembangunan infrastruktur, dengan anggaran berkisar antara 75 milyar pada tahun 2025 ini. Angka ini tentunya tidak sebanding dengan jumlah panjang dan ruas jalan yang ada di Klaten.

Tentunya hal ini tak lepas dari kebijakan Pemerintah dalam rangka efesiensi, yang berdampak pada pemotongan atau pemangkasan anggaraan.

Menurut Agus Setiyono Ketua Pokja pemanfaatan dan Pemeliharaan Jalan, anggaran tersebut terbagi dalam bentuk pembangunan untuk pemeliharaan jalan, peningkatan jalan, pelebaran jembatan, pembuatan gorong-gorong dan pembuatan talud jalan.

“Untuk anggaran rutin pemeliharaan jalan dan gaji THL itu ada 20,8 Milyar dengan cakupan 117,54 Km untuk paket lelang yang terdiri dari 32 ruas jalan, gorong-gorong di 8 lokasi dengan total panjangnya sembilan puluh dua meter, talud jalan 20 lokasi total panjangnya 1,78 Km. Dan yang dikelola tenaga hari kita atau dengan cadangan matrial itu panjangnya 138 Km, dengan total ruas 46 ruas jalan. Untuk titik lokasi menyebar di seluruh Kabupaten Klaten,” terang Agus

Katagori pemeliharaan jalan lanjut Agus, adalah ruas jalan yang tingkat kerusakannya ringan dan rusak sedang, untuk yang rusak berat masuk dalam penanganan.

Selain pemeliharaan jalan, Bina Marga DPUPR Klaten juga melakukan peningkatan jalan di beberapa ruas. Antara lain Kalisogo, Bayat, sepanjang 2,56 Km, jalan Ki Ageng Pemanahan panjang 530 meter, jalan Wonosari Bolali 1,98 Km, Jlobo – Jaten 2.8 Km, Gombang-Pogung – Tlingsing panjang 4,85, yang tertangani hanya 1 Km lebih, karena adanya pelebaran jala, Margorejo – Kadilajo 2,17 Km, Prawatan – Margorejo 400 meter dari 3,18 Km. Manisrengho – Kadilajo dengan 900 meter.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengecek langsung sejumlah lokasi perbaikan jalan di wilayah Kecamatan Wonosari dan Juwiring.

Kebutuhan peningkatan jalan Manisrenggo – Kadilajo sebenarnya ada sekitar 4,81 Km, namun baru tertangani 900 meter karena terbatasnya anggaran. Untuk menyelesaikan semua dibutuhkan anggaran kurang lebih sebesar 20 Milyar. Jika tidak ada efesiensi atau pemotongan anggaran, mungkin ceritanya lain.

Disamping itu, ada dua jembatan yang saat ini direhab dan diperlebar oleh Dinas PUPR Klaten, yaitu jembatan Temas, Cawas dan Jembatan Sraten, Pedan.

“Jembatan Sraten Pedan diperlebar dari 3,5 Meter menjadi 7 Meter, sedang jembatan Temas, Cawas dari 4 Meter menjadi 8 meter dengan anggaran 2,4 Milyar,” ungkapnya.

Menanggapi pengerjaan jalan yang dilakukan dinas PUPR Klaten, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi kinerja PUPR yang terus melakukan perbaikan dan pemeliharaan jalan. Baik yang sifatnya insidental atau sudah masuk dalam kelender pengerjaan pemeliharaan atau peningkatan.

“Sesuai misi saya dimana infrastruktur terutama jalan menjadi skala prioritas 100 hari kerja saya sebagai Bupati, saya akan sering sering terjung langsung dalam mengawasi proses perbaikan dan pemeliharaan jalan yang ada di Klaten. Dan Alhamdullliah semua berjalan sesuai dengan progres yang sudah direncanakan. Bisa dikatakan hampir semua jalan sudah baik. Jika ada tinggal beberapa persen dengan kondisi rusak ringan. Dan itu akan kita genjot di sisa waktu yang ada atau kita lanjutkan di tahun anggaran berikutnya,” ucap Hamenang.

 

Idul Fitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *