LENSA KLATEN.COM – Ditengah arus modernisasi dan hantaman budaya asing yang terus menggempur tradisi leluhur nenek moyang, Tradisi kirab, serta budaya kenduri ternyata masih dipertahankan di berbagai daerah di tanah air, khususnya di Kabupaten Klaten.
Desa Karangtalun, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, salah satu desa di Klaten yang hingga saat ini masih mempertahankan sekaligus menggelar tradisi kenduri dan kirab budaya serta sedekah bumi yang dikemas melalui kegiatan Kirab Budaya Ruwahan.
Event yang dilakukan setahun sekali pada bulan Ruwah tersebut, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat desa atas berkah dan rahamat Tuhan karena telah diberi rejeki yang melimpah, baik kesehatan, keselamatan serta hasil panen.
Acara Kirab Budaya Ruwahan 2026, yang digelar Minggu pagi (01/02-26) di halaman kantor desa diikuti oleh perwakilan tiap dukuh. Tiap perwakilan dukuh mengusung gunungan yang terbuat dari berbagai hasil bumi, seperti sayur mayur, buah buahan, makanan serta lainnya, yang kemudian diarak keliling desa sejauh kurang lebih 5 kilometer.
Kepala Desa Karangtalun Wahyu Sri Haryanto kepada wartawan menegaskan tradisi sedekah bumi yang disertai kirab budaya akan terus dipertahankan di bumi Karanagtalun. Karena selain melestarikan budaya leluhur, kegiatan tersebut juga merupakan ungakapan rasa trima kasih dan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta atas segala KaruniaNya.
” Tradisi Ruwahan yang kita kemas dalam bentuk sedelah bumi dan kirab budaya akan terus kita lestarikan hingga ke anak cucu kita nanti. Harapan kami agar anak cucu kita nanti tetap tahu jika nenek moyangnya dulu sudah memiliki budaya dan tradisi yang memiliki nilai nilai luhur dan perabadan tinggi”, ujarnya.
Menurut Wahyu Hartono kenduri sedekah bumi yanag diawali area persawahan, sebelum diarak keliling dukuh, merupakan bentuk sinkronisasi antara manusia dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Dengan tradaisi ini diharapkan waarga semakin peduli dalamaa menjaga menjaga keseimbangan alam, menghormati sumber daya yang ada, serta mengunakan seperlunya tanap harus merusak atau mengambil secara berlebihan.
Sementara itu proses kegiatan sedekah bumi yanag berlangsung mulai pagi hingga menjelang sore, berjalan sangat meriah. Berbagai keseenian tradisosnal seperti tari jaran kepang, reog dan jatilan ikut dipertontonkan.
Ribuan warga yang datang dari berbagai daerah dan ikut dalam proses rayahan gunungan semakin membuat suasana meriah. Tak sedikit warga yang berhasil mendapat buah atau makanan dari gunungan mereka simpan karena dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan.










