LENSA KLATEN.COM.KLATEN – Tak ingin kecolongan, Dinas Kesehatan kabupaten Klaten Jawa Tengah saat ini mulai melakukan ORI (outbreak respon immunization) yaitu pemberian imunisasi campak bagi anak usia 9 bulan hingga 59 bulan, tanpa memandang status imunisasi campak sebelumnya.
Tindakan ini dilakukan menyusul ditetapkannya status KLB (Kejadian Luar Biasa) di Kebondalem Lor kecamatan Prambanan, Klaten, setelah ditemukannya 2 kasus penderita sakit Campak di desa tersebut. Hal ini dilakukan guna menanggulangi kejadian luar biasa campak.
Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Klaten dr Anggit Budhiarto MM.MR didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). dr hanung Sasmito W. M.Si yang membawahi subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, menjelaskan saat ini di Klaten ditemukan 4 kasus Campak.
Temuan pertama ada di Kebondalem Lor, dimana 2 anak dipastikan positip terkena Campak, yanag ada hubungannya dengan epidimiologi, sehingga kasusnya ditingkatnya menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).
Sedang dua kasus lainnya ditemukan di dua wilayah berbeda yakni kecamatan Wonosari dan kecamatan Delanggu. Karena dua temuan ini berdiri sendiri sendiri, maka tidak masuk KLB.
” Saat ini kita bergerak cepat dengan melakukan gerakan ORI (outbreak respon immunization) yakni pemberian imunisasi bagi anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa memandang status imunisasi campak sebelumnya. Langkah cepat ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar tidak ada penularan lebih luas lagi”, tegasnya.
Dijelaskan lebih lanjut, sebenarnya ORI baru akan dilakukan setelah ada surat dari Dinas Kesehatan Propinsi, karena terkait dengan ketersediaan vaksin yang diberikan. Namun Dinkes mengambil langkah antisipasi melakukan imunisasi terlebih dahulu sambil menunggu surat dari Propinsi turun.
” Untuk melakukan vaksinasi 53.000 anak usia 9 sampi 59 bulan, memerlukan jumlah vaksin cukup besar. sementara Stok vaksin di Dinkes terbatas, maka vaksinasi saat ini masih tentatif sambil menunngu tambahan vaksin dari Dinkes Propinsi.”, ujar Anggit.
Saat ini lanjut Anggit melalui faskes Puskesmas petugas bersama bidan desa sudah mulai melakukan vaksinasi untuk anak anak. Khususnya didaerah daerah yang dipandang memiliki potensi tinggi akan virus campak.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). dr hanung Sasmito W. M.Si menjelaskan, Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh virus Genus Morbillivirus.
Penyakit ini sering menyerang anak atau siapa saja yang tidak memiliki imunitas atau belum divaksin. Gejala awal Campak biasa 3-4 hari sebelum ruam terlihat.
Bagi anak yang terkena Campak biasanya akan mengalami demam tinggi melebihi 30 derajat celsius dan bisa naik secara tiba tiba. selain itu gejala juga dibarengi, batuk kering hidung meler (umbelen), dan mata merah berair berlebih (konjungtivitis).
” Biasanya tanda tanda anak terkena campak akan muncul setelah 10 hari setelah inveksi. Anak akan mengalami demam tinggi, batuk kering, pilek dan mata berair serta sakit tenggorokan. Disusul muncul ruam bintik merah yang diawali dari belakang telinga wajah dan keseluruh tubuh”, Terang hanung.
Untuk itu dirinya menghimbau agar bagi ibu ibu yang memiliki anak kecil apalagi belum mendapat imunisasi, untuk segera membawa anaknya ke dokter atau rumah sakit, jika anaknya mengalami tanda tanda seperti diatas.
Virus Campak sangat berbaya karena akan menyebabkan daya imun tubuh lemah dan akhirnya berdampak pada bawaan penyakit yang dimiliki. Atau akan kehilangan imun tubuh selamanya.















