LENSA KLATEN.COM – Akibat hujan deras yang hampir turun setiap hari dengan intensitas tinggi, sebuah Jembatan penghubung antara dukuh, di Desa Gumul, Kecamatan Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah ambrol ke dasar sungai.
Selain memutus jalan pintas warga antar dukuh Geneng dan dukuh Balerejo, putusnya jembatan karena pondasi jembatan tergerus banjir, juga menyebabkan putusnya pipa jaringan air bersih Pamsimas bagi kebutuhan sekitar 120 keluarga.
Beberapa warga setempat menjelaskan, jembatan yang dibangun secara swadaya masyarakat dengan panjang sekitar 15 meter, lebar 3 meter patah dan roboh kedalam jurang setinggi 6,5 meter terjadi pada Sabtu (28/02-26) sekitar pukul 23.55.
” Saat itu hujan memang sangat lebat dan berlangsung lama. Sekitar jam 11.00 menjelang luhur, saya mendengar suara gemuruh dan getaran yang cukup keras. Saat saya menuju sumber suara, ternyata jembatan sudah hilang roboh berada didasar jurang”, ujarnya.
Sehari setelah kejadian Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo langsung menuju lokasi, didapingi kepala Dinas PUPR Klaten Suryanto ST, serta kepala BPBD Syahruna, meminta agar PU segera melakukan koordinasi dengan dinas terkait untuk secepatnya membangun kembali jembatan tersebut.
Menurut Bupati karena selain mendesak karena salah satu jalan alternatif tercepat yang menghubungkan dua dukuh, dibadan jembatan juga terpasang jaringan pipa air Pamsimas. Sehingga hal ini harus segera diperbaiki agar kebutuhan air warga segera tercukupi dan lalu lintas kembali normal.
” Kami minta mas Suryanto dari PU untuk segera berkoordinasi dan melakukan aktion, jembatan ini segera ditangani. Insya Alloh dalam seminggu sudah jadi. Agar jembatan kembali berfungsi karena mau lebaran dan suplai air pada warga kembali lancar”, ujarnya.
Sementara Kabid Bina Marga DPUPR Klaten Tri Siwidodo menjelaskan jembatan yang dibangun secara permanen tahun 1995 merupakan asset desa. Sebelumnya jembatan hanya terbuat dari bambu. Namun jembatan tersebut sangat vital bagi penduduk karena untuk akses utama anak anak sekolah serta petani dan warga melakukan kegiatan ekonomi.
Jembatan itu menjadi jalur vital bagi warga setempat untuk akses ekonomi maupun pendidikan (berangkat dan pulang sekolah). Jembatan tersebut sebelumnya terbuat dari bambu yang dibangun pada 1980 kemudian diganti bangunan permanen pada 1995. Pembangunan jembatan dilakukan secara swadaya oleh warga.
” Secepatnya kita akan melakukan koordinasi serta pendampingan sejauh mana kerusakan dan langkah apa yang harus segera diambil agar jembatan bisa kembali dibangun. Yang jelas ini jembatan desa yang dibuat secara swadaya masyarakat”, ujarnya.









