LENSA KLATEN.COM – Memasuki hari ke 16 atau jelang setengah bulan memasuki Lebaran Idul Fitri, harga 9 bahan pokok mulai merangkak naik. Misalnya terigu, minyak goreng, telur, mentega, daging, serta kebutuhan lain.
Naiknya beberapa bahan pokok yang memang sudah menjadi “tradisi” pedagang untuk meraih keuntungan setahun sekali ini, tak jarang dimanfaatkan oleh pengusaha seperti rumah makan, pengusaha roti, atau usaha katering untuk menaikkan harga jual produksi di pasaran, walau tidak semua pengusaha melakukan hal tersebut.
Salah satu pengusaha pembuat kue dan roti di Klaten yang tetap konsisten dengan harga produk yang dijualnya ialah Perusahaan Roti Ibu Basuki. Beralamatkan di Desa Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten Jawa Tengah, usaha rumahan yang sudah berjalan lebih dari 40 tahun ini, kini menjadi salah satu jawara perusahaan roti ternama di Klaten tetap mematok harga normal.

Pemilik sekaligus Owner perusahaan Roti Basuki Karpini Basuki, mengatakan kenaikan harga terigu, mentega serta bahan bahan kue jelang lebaran ini tidak serta merta membuat perusahaan ikut menaikkan harga produknya kepada konsumen.
“ Hingga saat ini kita masih konsisten dan bertahan dengan harga lama. Memang cukup pahit mas. Tapi nggak apa apa. Dalam kondisi seperti ini, kita anggap (idep-idep) shodakoh membantu mereka yang ingin ikut merayakan berlebaran. Kita masih ada selisih keuntungan walaupun sedikit, tapi Insya Alloh berkah mas”, ujarnya saat ditemui dikediamannya Minggu (16/03-25).
Diakui, sudah beberapa hari harga bahan baku pembuatan roti, seperti terigu, mentega, telur, gula, soda dan lainnya perlahan mulai merangkak naik.
Tapi hingga saat ini semua masih bisa diatasi dan di siasati. Salah satunya dengan mengambil dana cadangan untuk membeli bahan baku sejak dini ketika harga masih normal. Sehingga saat jelang lebaran, dirinya tak perlu repot mencari bahana baku.
“ Ini salah satu usaha kita untuk mensiasati kenaikan harga, agar hasil produk tetap bisa dijual dengan harga normal, tidak ikut eforia menaikkan produk kita di pasaran. Sehingga konsumen dan pelanggan tetap datang dan belanja ke sini”, ujarnya.

Sementara itu Menejer marketing perusahaan roti Basuki, Sunarno mengaku saat ini permintaan kue terus meningkat. Baik roti kering dan roti basah. Pesanan datang tidak hanya dari Klaten tapi juga dari luar kota seperti Solo raya, Wonogiri, Jogyakarta, Boyolali, Sleman, Semarang, bahkan Jakarta.
” Biasanya mereka pesen sejak sekarang. baik roti kering dan roti basah. Nanti 2 hari jelang lebaran mereka datang mengambil atau kita kirim sesuai permintaan. Ada yang untuk hidangan keluarga saat lebaran dan tak sedikit untuk oleh oleh saat mudik nanti”, ujarnya.
Varian roti produk Basuki sendiri lanjut Sunarno lebih dari 29 jenis dan pilihan. ada roti basah dengan 22 jenis mulai dari Black Forest Oven, Gulung kecil, Chiffon cake double keju, Kopia, Lapis legit kukus, cake keju, Tiramisu, Tart, Chiffon cake original, Brownies, Mandarin pelangi, Gula Palem, Pisang Keju, Lapis marmer, Mandarin dan aneka roti kering lainnya, dengan harga mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 150.000, sesuai permintaan. Dan semua sudah bersertifikat halal dan terdaftar di Depkes RI nomor 306331002134/206311002134.
” Biasanya jelang lebaran kenaikan omset cukup tinggi. Tapi lebaran ini agak berbeda. Kenaikan tidak begitu signifikan. Kita maklum kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik baik saja. Apalagi pemerintah mengetrapkan kebijakan pemangkasan anggaran. Ini sangat berdampak di masyarakat bawah dan para pelaku usaha UMKM, termasuk saya”, ujarnya.
Menengok kebelakang sejarah berdirinya perusahaan roti/kue Basuki yang telah memiliki Brand dan rekommonded di Klaten dan sekitarnya ini, ternyata berawal dari sebuah usaha rumahan yang dikerjakan oleh satu keluarga.
Bertekad dengan modal kecil dan pas pasan, sekitar tahun 1985, pasangan Alm Basuki Hadisukamto dan sang istri Karpini membuka usaha makanan kecil kecilan. Dirumahnya yang sederhana di desa Jonggarangan, kedua pasangan ini mulai membuat makanan kecil seperti Donat, bakwan, kokies, kik marmer, roti gulung, ceriping, keripik, untuk disetorkan ke warung warung, terminal, atau dititipkan di kantin sekolah.
Berawal dari sinilah Ibu Roti Basuki mulai dikenal di Klaten. Perjuangan dan kerja keras yang ulet dan gigih mulai tampak hasilnya. Roti buatan Ibu Basuki mulai di kenal masyarakat luas dan merambah ke penjuru wilayah Klaten dan kota sekitarnya.
Sebagai salah satu pelopor toko roti di Klaten, selain toko roti Muncul dan Harum, Toko dan perusahaan Roti Ibu Basuki kini tetap bertahan dan terdepan di Klaten, walau banyak bermunculan toko roti baru.
Usaha rumahan yang semula hanya dikerjakan oleh keluarga berkembang menjadi sebuah perusahaan makanan dengan jumlah karyawan mencapai lebih dari 80 pekerja. Bahkan hanya dengan berjualan roti saat itu almarhum bapak yang hanya seorang guru mampu menyekolahkan 5 anaknya hingga perguruan tinggi bergelar sarjana.
” Selain di rumah Jonggrangan, kita membuka cabang di beberapa tempat mas. Seperti di Kaliwingko jalan Jogya-Solo Delanggu, jalan raya Pedan-Cawas, Tawangsari Sukoharjo dan beberapa tempat lainnya.”, ujar Narno yang juga mantan Kepala Desa Jonggrangan ini.

Menjelang lebaran kali ini lanjut Sunarno, permintaan tetap ada tapi tidak seperti tahun tahun lalu. Baik kue basah atau kue kering. Semua pesanan bisa diambil dan diantar tepat waktu sesuai permintaan. Kenaikan harga bahan baku roti memang terasa., tapi tidak masalah. Semua masih bisa diatasi.
” Yang cukup sulit saat ini adalah persaingan yang semakin ketat. Banyaknya toko dan perusahaan roti/kue di Klaten akhir akhir ini menjadi sebuah PR tersendiri, bagaimana harus mengelola menejemen, mensiasati pasar agar pemasaran tetap lancar, tetap mampu bersaing dan bertahan. Salah satu kunci utama ialah tetap mempertahankan mutu dan cita rasa asli, memakai resep warisan leluhur”, ujarnya.
Bagaimana dengan lebaran anda. Apakah meja tamu anda sudah siap menyambut kehadiran sanak saudara handai tolan, teman dan saudara yang datang dari luar kota. Jika belum komplit mulai sekarang buruan pesen kue lebaran di Toko dan perusahaan kue Ibu Basuki. Dijamin mak nyusss. (batavia)









