LENSA KLATEN.COM – Memasuki hari kesepuluh puasa, jelang lebaran berbagai harga kebutuhan di Klaten Jawa Tengah mulai merangkak naik. Kenaikan signifikan ini juga dirasakan beberapa pengusaha makanan cemilan rambak cakar di Klaten.
Jika hari hari biasa, dirinya hanya menghabiskan cakar mentah sekitar 50 hingga 70 kg/ hari, kini meningkat dua kali lipat. Sehari bisa capai 80 hingga 100 kg.
Harga rambak cakar yang semula hanya berkisar Rp 110.000 kini melonjak menjadi Rp 150.000/kg. Kenaikan harga ini selain menjelang lebaran yang semakin dekat, namun juga dipicu cuaca yang tidak bersahabat.

Andi Priatmoko (42) pengusaha cakar warga dukuh Bendo, kelurahan Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah, menjelaskan kenaikan harga tahun ini datang lebih awal karena cuaca yang tidak bersahabat dan harga kebutuhan dasar juga mulai naik.
Mulai dari harga bahan baku cakar yang semula hanya Rp berkisar antara 15.000 kini menjadi Rp 17.000/kg. Selain itu harga minyak goreng juga mengalami kenaikan. sehingga mau tidak mau harga jual rambak cakar ikut naik.
Menurut Andi hujan yang turun setiap hari juga menjadi salah satu penyebab utama naiknya harga cakar disaat permintaan tinggi menjelang lebaran.
” Jika cauca cerah, proses pembuatan tidak terlalu memakan waktu, terutama saat penjemuran cakar setelah ddipisahkan tulangnya. Mungkin sehari atau 2 hari sudah kering dan siap digoreng. tapi saat ini belum tentu seminggu cakar bisa kering, karena tidak ada panas matahari”, ujarnya.
Ada alternatif agar cakar bisa cepat kering dengan cara dipanggang atau diopen. Namun menurut Andi selain menambah beaya oprasional, kripik cakar hasil ovenan rasanya beda dengan pengeringan secara alami. Cakar yang diproses dengan pengeringan secara alami rasanya lebih gurih dan renyah.
Dihari hari biasa lanjut Andi dirinya mampu mengolah cakar mentah menjadi rambak cakar siap saji sekitar 50 saampai 70 Kg. Dari bahan mentah 50 sampai 70 kg akan menghasilkan cakar matang sekitar 7 sampai 9 kg.

Masalah pengadaan bahan baku cakar menurut Andi sudah disetor oleh pemasok. Drinya tak perlu repot mencari bahan baku karena sudah punya pelanggan tetap. Untuk mengolah rambak cakar, mulai dari membersihkan, memasak hingga memisahkan tulang dengan daging (thithil) dirinya mempekerjakan sedikitnya 4 tenaga kerja.
Saat ini lanjut Andi dirinya mulai banyak menerima pesanan rambak cakar dari berbagai daerah. Mulai dari warga sekitar hingga pesanan dari luar kota, termasuk para bakul langganannya selama ini.
” Walau ekonomi lagi sulit, jelang lebaran tahun ini pesanan meningkat cukup signifikan mas. Lumayan bisa untuk tambah beli ke lebaran”, ujarnya















