LENSA KLATEN.COM- Klaten – Asap sisa kebakaran hebat yang meluluhlantakkan Pasar Sidoharjo, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, pada Senin (27/7/2026) lalu, perlahan mulai berganti dengan secercah asa baru. Sebanyak 101 pedagang yang kehilangan tempat mencari nafkah kini bisa sedikit bernapas lega setelah wakil rakyat dan pemerintah daerah turun tangan langsung menyiapkan skema pemulihan komprehensif.
Senin (7/9/2026), ruang pertemuan Kantor Kecamatan Bayat mendadak riuh oleh kehadiran ratusan pedagang yang mengikuti sosialisasi edukasi keuangan dan subsidi bunga. Di tengah barisan kursi, tampak pimpinan dan anggota Komisi II DPRD Klaten duduk berdampingan dengan para pedagang, berdialog, dan mendengarkan keluh kesah mereka pasca-musibah yang menelan kerugian hingga miliaran rupiah tersebut.
Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Ketua Komisi II DPRD Klaten, Agus Riyanto, didampingi Wakil Ketua Yudi B. Prabawa, serta jajaran eksekutif termasuk Kepala DKUKMP Klaten Anang Widjatmoko, Kabag Perekonomian dan SDA Setda Klaten Akhmad Arison, hingga Dirut PT BPR Bank Klaten (Perseroda) Dewi Ekosari.
Di hadapan para pedagang, Agus menegaskan bahwa kehadiran legislatif bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata dari fungsi pengawasan dan penganggaran. Suara hati para pedagang yang merugi dipastikan telah diakomodasi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan.
“Di APBD Perubahan ini alhamdulillah sudah dianggarkan tiga hal penting. Pertama, untuk renovasi Pasar Bayat tahap pertama. Kedua, untuk pembangunan pasar darurat. Ketiga, tambahan anggaran untuk subsidi bunga bagi pedagang,” ungkap Agus.
Meski anggaran telah diketok, roda birokrasi harus tetap berputar sesuai prosedur. Persetujuan bersama antara Bupati dan DPRD terkait APBD Perubahan dijadwalkan disahkan pada Kamis (10/9/2026). Setelah itu, dokumen masih harus melalui meja evaluasi Gubernur Jawa Tengah selama 14 hari kerja.
“Insyaallah minggu ketiga bulan September ini, setelah evaluasi dari gubernur turun, pasar daruratnya sudah bisa mulai dibangun,” tambah politisi tersebut. Pasar darurat ini diproyeksikan menjadi rumah sementara bagi para pedagang hingga akhir tahun depan, seiring berjalannya proyek renovasi pasar utama secara *multi-years*.
Tak hanya memikirkan tempat berteduh dari terik dan hujan untuk berdagang, pemulihan ekonomi kerakyatan menjadi poin krusial yang digarap serius. Pemkab Klaten menggandeng Bank Klaten guna menggelontorkan pinjaman modal dengan skema subsidi bunga yang sangat meringankan beban pedagang.
“Intinya, pedagang yang meminjam modal ke Bank Klaten hanya akan membayar bunga sebesar 20 persen saja. Sedangkan sisa bunganya yang 80 persen akan disubsidi oleh pemerintah daerah. Untuk angsuran pokoknya tetap dibayar seperti biasa,” tegas Agus.
Melalui program ini, pedagang dapat mengakses plafon pinjaman maksimal Rp50 juta. Dari total bunga normal sebesar 1 persen, pedagang hanya perlu membayar 0,2 persen saja per bulannya, sementara sisanya ditanggung oleh Pemkab Klaten.
Di sisi lain, trauma atas musibah yang menghanguskan 101 los pasar tersebut memicu kesadaran baru tentang pentingnya mitigasi bencana. DPRD Klaten secara khusus menitipkan pesan pengamanan infrastruktur yang ketat kepada pihak pengembang dan dinas terkait. Agus mewanti-wanti agar seluruh instalasi jaringan listrik di pasar yang baru nanti wajib menggunakan material berstandar SNI (Standar Nasional Indonesia).
Langkah jemput bola ini menjadi bukti bahwa negara hadir saat warganya terjatuh. Dari abu kebakaran di penghujung Juli lalu, kini denyut nadi ekonomi Pasar Sidoharjo bersiap bangkit kembali dengan fondasi yang lebih aman dan terencana. (Red)









