LensaKlaten.com – Terlihat, petugas pasar hewan di Prambanan Klaten Jawa Tengah, menyemprotkan disinfektan ke sejumlah lokasi pasar hewan setempat. hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan seputaran pasar hewan, menyusul maraknya kembali kasus penyakit mulut dan kuku pada sapi atau pmk.
Kembali munculnya penyakit mulut dan kuku atau pmk di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sangat berdampak terhadap jual beli hewan sapi di pasar hewan yang berbatasan dengan DIY. Selain harganya turun, jumlah hewan sapi yang masuk ke pasar juga menurun hingga 50 %.
Data dari dinas pertanian dan ketahanan pangan (dpkp) DIY ada ratusan kasus sapi terpapar pmk per 1 januari 2025. Sedangkan dari data dinas ketahanan pangan dan pertanian Klaten, ada sekitar 60 hewan sapi yang suspek pmk di Klaten Jawa Tengah.
Akibat kembali munculnya kasus tersebut , sangat berdampak pada proses jual beli yang terjadi di pasar hewan, salah satunya di pasar hewan prambanan.
Jumlah hewan sapi yang diperjualbelikan di pasar setempat jumlahnya turun drastis. Menurut petugas, dalam setiap pasaran, sehari ada sekitar 100 hewan sapi yang masuk pasar, namun saat ini hanya sekitar 45 ekor saja.
Salah satu pedagang sapi, Leo mengatakan, akibat kembali munculnya PMK, harga sapi juga mengalami penurunan untuk yang sapi kecil kisaran 2-3 juta. biasanya sapi jenis lemosin dan metal, harganya 9 hingga 10 juta untuk sapi kecil, saat ini turun menjadi 7 juta perekornya. Sedangkan untuk sapi yang besar turun harga sekitar 4-5 juta rupiah perekornya.
“ Saya berharap, apapun yang terjadi, pasar hewan khususnya sapi jangan sampai ditutup, agar perekonomian tetap berjalan. Kami juga berharap, pemerintah melalui para dokter dan ahli, untuk segera menemukan obat dari pmk, sehingga kasus pmk tidak banyak merugikan peternak maupun pedagang sapi, “ Kata pedagang sapi asal Pedan tersebut.









