LENSA KLATEN.COM KLATEN – 18 gunungan ketupat dan berbagai hasil bumi diarak mulai dari kaki bukit Sidogora, desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten Jawa Tengah, menuju panggung pagelaran yang berada dipuncak bukit.
Ribuan pengunjung dari seluruh pelosok Klaten dan luar kota, seperti Jakarta, Sukoharjo, Gunung Kidul, Boyolali, Bandung, Solo tumpah ruah, berbondong bondong naik kepuncak bukit untuk bisa mendapatkan ketupat yang ada di Gunungan.
Prosesi jalan kaki sambil membawa gunungan yang dibua dari 18 instansi serta dinas terkait sejauh kurang lebih sratus meter dengan jalan kondisi menanjak, sebagi puncak acara Grebek Syawalan yang digelar pemerintah kabupaten Klaten Sabtu pagi ( 28/03-26) sebelum diperebutkan oleh ribuan pengunjung.
Sedikitnya 1.000 porsi opor ayam gratis yang disediakan panitia serta 18 gunungan ketupat menjadi puncak simbol pesta rakyat, dalam memungkasi serangkaian jalannya prosesi perayaan lebaran di Klaten yang sudah berjalan turun temurun sejak nenek moyang.
Dalam kegiatan yang dihadiri langsung Bupati Klaten Hamenang Wajar ismoyo SI.KOM serta seluruh jajaran Forkopimda dan kepala OPD serta dinas terkait di Klaten, juga dimeriahkan dengan tampilnya orkes melayu Tempo Doeloe LORENSA, yang mengibur para pengunjung dengan lagu lagu jadulnya.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalamaa kesempatana tersebut menekanakan Grebeg Syawal merupakan upaya konkret pemerintah dalam nguri-uri atau melestarikan budaya warisan leluhur. Tradisi Syawalan yang sudah ada sejak turun temurun, adalah sebuah tradisi dan menjadi wadah spesial bagi pemimpin dan rakyat untuk saling bermaaf-maafan secara langsung.
” Syawalan merupakan tradisi nenek moyang kita, tradisi leluhur yang harus kita jaga dan lestarikan. karena mengandung filosofi tinggi dalam menjunjung adab dan kearifan lokal. Lewat Grebeg Syawal ini, kita bersama-sama berbagi kebahagiaan dan mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan. Nol..nol sedulurku semua ” ujar Bupati dihadapan ribuan pengunjung.
Ditambahkan secara filosofis ketupat atau kupat memiliki makna mendalam sebagai akronim dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Rumitnya anyaman janur kuning pada ketupat melambangkan kompleksitas kesalahan manusia yang harus diurai dengan keikhlasan untuk saling memaafkan.
Putihnya isi ketupat yang terbuat dari beras menjadi simbol kembalinya kesucian hati manusia setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan.
Sementara Plt Kepala Disbudporapar Kabupaten Klaten, Purwanto, menambahkan Syawalan merupakan masa transisi bagi umat Muslim untuk membuktikan pengendalian diri dari hawa nafsu.
Menurut Purwanto tradisi Syawalan di bukit Sidogora adalah bagian dari serangkaian kegiatan yang digelar Pemerintah kabupaten Klaten disektor pariwisata yang digelaar secara serentak guna menyambut hari raya Idul Fitri.
” Dalam lebaran tahun ini Kabupaten Klaten sedikitnya telah menyiapkan 58 paket pusat rekrasi bagi masyarakat dalam merayakan lebaran. Baik wisata alam, wisata air, kuliner serta lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Klaten. Dan Alhamdulliah semua obyek wisata yang tersedia mampu mengobati kerinduan masyarakat serta pemudik yang sudah lama tidak pulang kampung, untuk bisa berlibur bersama keluarga dan sanak saudara”, ujarnya.

Dan yang paling utama lanjut Purwanto, tersedianya tempat dan sarana hiburan dan obyek wisata yang ada, serta kehadiran ribuan wisatawan, diharapkan mampu menjadi mesin penggerak perekonomian masyarakat sekitar serta para palaku UMKM yang ada.
Ditambahkan sebelum puncak acara Syawalan di Bukit Sidogora, sehari sebelumnya juga digelar acara kenduri ketupat di desa Jimbung, kecamatan Kalikotes, Klaten yang digelar di komplek wisata Sendang Bulus Jimbung Klaten yang berjarak sekitar 500 meter dari bukit Sidogora.
Prosesi kenduri ketupat di Sendang Bulus Jimbung ini memang tidak bisa lepas dari prosesi gunungan Ketupat di bukit Sidogora, karena memiliki keterkaiatan.
Dimana dalam kenduri ketupat di komplek Sendang Bulus dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan memperingati keberadaan patih Sidogora yang telah memakmurkan warga masyarakat Jimbung dan sekitarnya.
Sampai saat ini masih banyak warga sekitar bahakan warga dari luar kota yang sengaja datang ke acara gerebag Syawan dan kenduri ketupat, hanya untuk bisa mendapatkan ketupat yanag ada dalam gunungan.
Mereka masih mempercayai ketupat yang dalam gunungan memiliki tuah dan kharomah tersendiri, dimana bagi yang percaya diyakini bisa membawa keberkahan atau keberuntungan, baik dalam berdagang, bekerja atau bertani.









